-snip-
Masalahnya apa iya program ini memang bertujuan untuk memberantas kekurangan gizi. Kalau saya lihat dari implementasinya di lapangan, makanan MBG rata-rata hanya mampu sekedar memenuhi standar makanan biasa. Bahkan seringkali makanan MBG tidak seperti layaknya makanan sehat yang mereka gembar-gemborkan. Mungkin kalau dikatakan untuk membuat kenyang masuk akal, tapi kalau untuk pemenuhan gizi saya kira masih jauh dari harapan. Malah cukup banyak kasus keracunan dari program ini. Alih-alih anak bisa terpenuhi gizinya, ini malah adanya keracunan masal.
Kalo dilihat secara faktual, kebanyakan menu yang diberikan hanyalah sekedar makanan yang bisa dibilang sehari2 diberikan para orang tua pada anak2nya.
Gizi hanya dijadikan kedok saja, kalo emang tujuan utamanya adalah gizi ya seharusnya dilakukan pula pengecekan tingkat kesehatan atau tingkat gizi secara berkala setelah anak2 itu menerima MBG.
Tapi dulu waktu pas kampanye sebenarnya juga bukan Makan Bergizi Gratis kan, tapi yang digembar-gemborkan adalah Makan Siang Gratis ya bisa dibilang apa yang kita lihat sekarang ini sudah sesuai dengan janji sewaktu kampanye
Memang sudah ada evaluasi real? Saya lihat di lapangan tidak ada evaluasi real. Beberapa kesalahan terus dilakukan berulang. Mulai dari makanan basi, hingga menajemen keuangan SPPG yang berantakan. Belum lagi, program ini seperti jadi parasit untuk bidang lainnya yang harusnya jadi prioritas juga karena program MBG ini memotong anggaran untuk bidang lain seperti pendidikan dan kesehatan.
Evaluasi yang ada hanyalah evaluasi parsial ketika terjadi kejadian luar biasa, itu pun sebatas pemberian sanksi operational dapur beserta para staffnya yang kemungkinan besar sekedar formalitas biar kelihatan kalo BGN kerja.
Tapi mau bagaimana pun, program ini tetaplah program prioritas dengan anggaran paling besar karena banyak yang bilang kalo program ini adalah program yang paling mudah untuk tujuan balas budi politik.