Ya, keterangan tersebut bisa menjadi perdebatan karena tidak ada batasan. Namun kalaupun ada batasan, berapa jumlah batasan tepatnya?
Karena itu sesuatu yang tidak ada ukuran pastinya, tentu sulit untuk mengukur batasannya. Mungkin bisa pake ukuran persentase dari kalimat atau total semua kata yang digunakan untuk post tersebut. Tapi ya itu IMO, kurang paham juga apakah itu bakal efektif atau tidak.

Mengkoreksi grammar sebenarnya fitur yang bahkan sudah lama ada di beberapa aplikasi pengolah kata seperti Ms Word.
Ya, itu hal lumrah dan sudah dari dulu. Selain pake aplikasi di MS Word, yang paling gampang pake grammarly atau google translate. Ini semua sebenarnya cuman alat bantu membenarkan kata atau frasa, yang tidak seharusnya menjadikannya menjadi kalimat bikinan AI.
Masalahnya, beberapa gambar juga ada yang menyisipkan konten teks, jadi tidak murni gambar semua.
Meskipun hanya gambar, saya seringkali tetap menyarankan untuk mencantumkan sumbernya, karena bisa jadi gambar tersebut juga memiliki hak cipta.
Untuk yang pake teks, selama itu pake disclaimer diambil dari sumber tertentu, harusnya aman. Toh itu aturannya jelas, itu cuman untuk memperjelas penjelasan dengan menambah dukungan data dari suatu sumber. Ya, memang harus menyertakan sumber, meskipun itu cuman gambar tok sekalipun.
Menyuruh AI untuk membuat postingan dan membalas komentar dalam diskusi, jelas tidak memiliki 'ruh'.
Efek jangka panjangnya, kemampuan menulis seseorang bisa menurun.
Ruh nya ada, ruh AI.

Masalahnya itu tidak original, artinya bukan post yang dibikin sendiri.
Tentu, untuk jangka panjang orang jadi malas mikir. Mereka tinggal bikin order perintah, selanjutnya AI semua yang proses. Yang makin pintar AI nya, orangnya makin tumpul pikirannya karena keseringan istirahat.

Namun sayangnya, disisi lain, AI seolah bisa mengambil kreatifitas orang lain tanpa 'dia' sendiri bisa digugat karena mengambil karya tersebut.
Mungkin alasannya karena kecanggihan AI bisa membuat karya yang unique walaupun itu hasil modifikasi dari berbagai karya orang. Yang sulit dibantah, karya mana yang sama persis dengan buatan AI. Si pembuat karya bisa saja tidak tau sisi mana yang diambil AI. Jadi sulit juga kalau mau nagsih proof untuk gugatan.