Pernah gak sih Anda membaca sebuah post atau chat dari teman, keluarga atau orang terkasih yang sama sekali tidak seperti yang kita artikan. Maksudnya begini, Anda membaca sebuah text, sebut saja "terserah" dari kekasih Anda, apakah Anda menyikapi text tersebut dengan sebagai luapan emosi atau biasa saja?
Kesalahpahaman seperti contoh tersebut, tidak hanya terjadi diranah pribadi, namun juga ketika berkomunitas baik di sosial media maupun dalam berforum. Bahkan, di dalam forum ini justru akan semakin mudah bagi seseorang tersulut emosi hanya karena diawali dengan perbedaan pendapat yang sangat panjang. Hal semacam ini lumrah terjadi, tapi tidak bisa untuk dianggap sebagai hal yang lumrah jika salah satu pihak justru menjadi dendam terhadap member lainnya.
Text Tidak Memiliki Intonasi dan Mimik Wajah
Saya akan mencoba untuk langsung pada satu pokok masalah ketika seseorang menyikapi sebuah teks sebagai sesuatu yang memiliki intonasi dan dapat menyalurkan mimik wajah melalui emoji.
Membaca dan menyamakan apa yang dibaca dengan suasana hatiHal pertama, mengapa cek-cok di sosial media dan forum menjadi besar adalah ketika salah satu pihak membaca apa yang dia lihat dengan memposisikan tulisan tersebut sesuai dengan suasana hatinya. Ketika dalam kondisi suasana hati yang sedang kurang stabil, membaca teks biasa pun bisa dianggap sesuatu yang buruk. Misalnya, ketika seseorang membaca teks capital, paling mudah ini dianggap sebagai kalimat nyolot. Padahal text capital yang dikirimkan seseorang bisa saja karena orang tersebut sedang sibuk dalam menginput data, memberikan waktu untuk membalas namun lupa mengubah text kapital tersebut, karena capslock nyala atau karena malas mengganti2 daripada nanti ngetik di urusan kerjaan jadi lupa di capslock. Sering kali, pembaca menganggap pengirim text capital ini sebagai menjawab dengan nada tinggi, padahal huruf kapital tidak memiliki nada, hanya karena suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja, menjadikan huruf kapital ini sebagai nada tinggi dari pihak pengirim. Menyamakan apa yang dibaca dengan suasana hati ini dapat menimbulkan kesalahpahaman nyata dalam diskusi text. Karena, suatu yang dikirmkan tanpa tujuan apapun, dianggap sebagai suatu serangan. Sehingga terjadilah cek-cok online. Jika Anda sedang emosi, jangan membaca dengan nada emosi seperti yang Anda alami, karena intonasinya akan berubah seperti pengirim sedang emosi juga kepada Anda.
Emoji tak mewakili wajahApakah jika saya menggunakan emoji (

) dianggap sebagai hinaan? tentu tidak jika tidak dalam kondisi bedebat atau bersitegang dengan member lain. Namun, ketika sudah bersitegang, emoji tersebut dianggap sebagai hinaan terhadap lawan bicara. EMoji tersebut dianggap sama dengan kita melihat seseorang yang menjulurkan lidah untuk tujuan mengolok-olok. Hal seperti ini sering kali terjadi, begitu pula ketika seseorang yang mengirim pesan dengan emoji tertawa pada orang berkabung yang dianggap menghhina kondisi berkabungnya. Padahal kenyataan tidak sepenuhnya sama dengan apa yang dia pikirkan. Dalam sebuah text, emoji tidak harus diartikan sepenuhnya sebagai bagian dari mimik wajah, ini bisa menjadi sebuah kebiasaan dalam menulis dan menjadi ciri khasnya. Jadi, kebiasaan tersebut mungkin masih belum bisa dihilangkan.
Lalu bagaimana seharusnya?
Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan ketika sudah merasa bahwa itu dianggap sebuah serangan terhadap diri Anda.
Delay Response: Jika merasa tersinggung, jangan langsung balas apa yang sedang Anda baca tersebut ketika sudah menyulut emosi Anda. Cobalah untuk memberi waktu 5-10 menit dan menelaah baik-baik apa yang akan disampaikan oleh lawan bicara Anda. Biasanya setelah emosi turun, teks yang tadinya "nyolot" pun terlihat biasa saja, karena kita membaca dengan situasi dan kondisi yang berbeda.
Tabayyun / Klarifikasi: Jika Anda merasa seseorang sedang menyerang Anda melalui sebuah tulisan, ada baiknya Anda menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Tanyakanlah maksudnya untuk menghindari perdebatan berkelanjutan. Lagi pula bertanya secarapersonal akan jauh lebih baik daripada asa menyerang melalui komentar publik.
Don't Take it Personally: Ingat, yang berdebat adalah argumen di layar, bukan harga diri Anda di dunia nyata. Jika Anda merasa tersinggung pada sebuah teks yang Anda baca, kembali pada poin 1 dan 2. Kemudian, turunkan emosi Anda bisa saja sesuatu yang menurut Anda itu adalah serangan, sejatinya hanya bumbu diskusi saja yang tidak bermaksud untuk melukai siapapun.