Melemahnya rupiah terhadap dollar akan sangat berdampak pada masyarakat indonesia. Mulai dari meningkatkanya harga barang (khususnya pada barang yang berasal dari impor), penurunan daya beli masyarakat (karena harus berusaha untuk berhemat), bahkan akan sangat berdampak pada sektor industri yang bergantung pada barang import.
Ya, sudah pasti akan berdampak. Selama masih ada barang import yang berkaitan dengan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, mustahil tidak ada dampaknya. Kecuali negara kita sudah benar-benar mandiri, artinya semua kebutuhan pokok sudah bisa dihandle sendiri tanpa bantuan import.
BTW selain contoh agan di atas, isu pembatasan bensin bersubsidi mungkin juga salah satu pengaruh dari naiknya dollar. Walaupun ini masih merupakan rentetatan dampak dari problem selat Hormuz kemaren.
Btw, pak Prabowo kemarin sempat mengatakan kalau masyarakat desa tidak menggunakan dollar. Menurutku, yang ia katakan tidak benar, karena masih ada banyak masyarakat desa yang menggunakan dollar, khususnya pada warga desa yang melakukan kegiatan ekspor/impor. Tidak hanya itu aja, ada juga warga desa yang menggunakan dollar, dan kemarin sempat viral tentang adanya warga desa yang menggunakan dollar. Kalau tidak salah, ia melakukan pembayaran menggunakan dollar untuk pembelian token AI.
Mungkin pak Prabowo tidak tau kalau masyarakat desa ada yang menggunakan dollar juga.

Ya memang tidak masif jumlahnya yang pake dollar. Toh cuman mereka yang berbisnis eksport import dan yang pake transaksi global yang pake dollar. Jadi tidak sepenuhnya salah juga. Hanya saja salah besar kalau kenaikan dollar tidak berdampak ke masyarakat desa.
Menurut sampean semua, Rupiah bisa diselamatkan tidak pada rezim saat ini ? Sepertinya, masih belum ada tanda-tanda rupiah akan kembali menguat, dan pernyataan dari menteri keuangan kita baru-baru ini juga semakin aneh terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ferry Irwandi juga sempat mengoreksi pak Purbaya di video terbarunya kmarin
In tergantung gimana langkah pemerintah ke depannya. Kalau cuman dengan cara Pak Purbaya selama ini, agak pesimis sih. Wajar kalau Ferry Irwandi mengkoreksinya karena memang banyak data yang terkesan tidak transparan. Baik itu sumbernya dari Pak Purbaya sendiri, ataupun dari pejabat lainnya.