saya pernah mengalami TBC di akhir 2012, saya tidak memperhatikan gejalanya karena memang saya tidak begitu memperhatikan kesehatan. Tapi yang memperhatikan adalah teman saya, sebelum saya benar-benar tahu kalau saya terkena TBC adalah beberapa minggu sebelum batuk berdarah teman saya bilang "kok kamu tambah kurusan pak", saat itu saya hanya bilang kalau saya memang gak bisa gemuk, BB naik turun. kalau gejala batuk, saya tidak merasa batuk intensif berminggu-minggu, justru hanya batuk sekitar 2-3 hari hingga akhirnya keluar darah dan bahkan muntah darah.
Saat itu saya perokok berat, saya bergonta ganti rokok demi cari harga lebih murah, dan teringat saat itu adalah malam minggu saya sendirian di kost mengalami batuk darah tersebut.
jadi, dari kisah saya ini saya ingin menambahkan bahwa, gejala TBC berbeda-beda tiap orang, tidak harus batuk panjang berminggu-minggu, namun saya percaya bahwa 1 dari 4 gejala tersebut akan dialami oleh penderita TBC tanpa diketahui. termasuk yang saya alami yaitu tambah kurus

Pengobatan saya tuntas dengan mendapatkan obat dari puskesmas secara gratis, saya merasa sembuh di bulan ke-2 mengonsumsi obat secara rutin. 1 bulan penuh saya tidak masuk kerja, di bulan ke-2 saya masuk, apa yang disampaikan oleh OP mengenai diskriminasi itu benar adanya. Karena, 1 dari 4 karyawan tempat saya kerja menjauhi saya karena takut tertular, saya bermasker saat ngantor, saya duduk menjauh dari semua rekan kerja untuk menghindari mereka tertular karena dia dengan terus terang bicara ke saya kalau dia takut tertular, tekanan mental muncul dibenak saya pribadi, hingga memutuskan resign. masih ingat betul, saya off kerja di akhir desember 2012 hingga januari 2013, resign akhir februari 2013 karena merasa bahwa saya bisa jadi ancaman semua karyawan di dalam kantor tersebut.
pesan saya, ketika ada yang terkena TBC jangan sampai menganggapnya sebagai penyebab penyakit, saya masih beruntung di keluarga saya sangat membantu saya untuk sembuh. tentu dengan mengonsumsi obat secara rutin hingga 6 bulan, memang ini berat tapi harus dilakukan. Di tahun 2015 saya sempat batuk darah lagi, namun saya gak ke dokter, namun melalui jalur alternatif.
di saat saya masih parah-parahnya di 2012 selain obat, saya minum rebusan sirih, dan ini ampuh menghentikan batuk darah saat itu. Dan saya lakukan lagi di 2015 ketika batuk berdarah kembali terjadi, saya minum rutin saat itu hingga beberapa minggu, dan sampai hari ini saya tidak pernah mengalami batuk berdarah lagi dan tanpa ke dokter
bagian ini bukan untuk di tiru ya. belum tentu meniru ini, Anda seberuntung saya.