Masih ingat dengan visi Bitcoin yang dulu sempat populer di komunitas, terkait dollar (fiat) yang kehilangan nilainya karena Bank Sentral terus mencetak uang. Kemudian barang dan jasa akan menggunakan kurs BTC sehingga BTC akan digunakan pada setiap transaksi barang dan jasa. Dalam visi tsb, BTC pada tahap ini telah menggantikan dollar (fiat).
Namun, setelah ane membaca berita ini
Stablecoin card spending forecast to hit $50 billion a year by 2028 - RedotPay ane berpikir sepertinya visi itu tidak lagi relevan karena yang digunakan malah stablecoin yang saat ini terus meroket adopsinya. Malah stablecoin USD ane terawang akan menjadi produk andalan ekspor Mamarika! Bukan tidak mungkin adopsi stablecoin USD malah akan semakin menggila, terutama di negara berkembang yang mata uangnya terus memburik.
Bayangkan kalau IDR terus melemah dan warga boleh menyimpan stablecoin di dompet mereka. Akhirnya alih-alih simpan BTC, mereka bisa jadi akan simpan USD. Praktis warga akan memilih USD karena mereka bisa membelanjakan stablecoin mereka dengan stablecoin card. Tidak kena volatilitas pula ketika menyimpannya.
Kerumitan yang menjadi penghalang adopsi pun sudah setipis tisu karena pengguna stablecoin card ini tidak perlu mencari merchant yang pasang "kami menerima USDT/USDC" karena kartu ini bisa digunakan di merchant visa/mastercard pada umumnya. Nanti transaksi konversi USDT/USDC ke USD terjadi di belakang layar. Masih ingat dengan era mencari merchant yang menerima BTC, saat ini sudah tidak lagi dibutuhkan. Konsep seperti ini pernah ane utarakan terkait payment gateway BTC, tapi nampaknya masih terkendala volatilitas dan fees yang besar.
Asalkan penjual quotes atau menggunakan harga IDR, dan kemudian pembeli bayar pakai IDR, medium perantara yang digunakan bisa apa saja.
Permasalahannya walaupun payment gateway itu boleh, misalnya:
- Pembeli transfer IDR 150rb -> BTC exchanger -> Penjual menerima IDR 150rb
Transaksi ini ga ada faedahnya untuk saat ini, tidak lebih baik dan tidak lebih murah daripada bayar pakai e-wallet, QRIS, atau transfer bank langsung. Kecuali di masa depan biaya pakai platform gateway BTC ini bisa lebih kecil daripada misalnya depo e-wallet (IDR 1rb - 1,5rb) atau biaya merchant QRIS. Coba bayangkan agan scan QR code di merchant pakai apps bank kesayangan agan untuk belanja (tidak ada potongan), dan kemudian fee untuk penjual juga lebih murah dari QRIS.
Bisa juga:
- Pembeli ambil senilai IDR 150rb dari tabungan BTC-nya -> BTC exchanger -> Penjual menerima IDR 150rb
Transaksi ini minim peminat karena ga banyak yang punya tabungan BTC dan terlebih lagi di antara orang yang punya tabungan BTC ga banyak yang mau pakai BTC-nya buat belanja.
Isu ini sudah solved dengan stablecoin card?