|
yehestielsiburian (OP)
|
 |
September 07, 2026, 04:21:20 PM |
|
Mau sharing sedikit soal indikator yang beberapa hari ini saya utak-atik. Awalnya saya cuma pengen bikin indikator yang bantu saya baca kondisi market. Bukan indikator buat kasih signal buy atau sell, lebih ke filter aja. Jadi pas buka chart saya pengen langsung tau, sekarang market lagi strong trend, trend, consolidation, atau memang kondisinya belum jelas.
Awalnya saya mulai dari EMA 25, 50 dan 100. Kalau EMA 25 > EMA 50 > EMA 100 saya anggap struktur bullish. Kalau EMA 25 < EMA 50 < EMA 100 berarti bearish. Kalau susunannya campur, berarti struktur market belum jelas.
Tapi setelah saya coba pakai, saya ngerasa EMA urut aja belum cukup. Kadang EMA sudah bullish, tapi harga masih terlalu dekat sama EMA25. Jadi saya tambahin jarak harga dari EMA25. Untuk trend biasa sekarang minimal 10 pips dari EMA25, sedangkan strong trend saya pakai minimal 50 pips.
Terus saya tambahin RSI 100. RSI di sini bukan saya pakai buat overbought atau oversold, lebih ke konfirmasi momentum. Rules yang saya pakai sekarang: RSI >52 = bullish, RSI <48 = bearish. Kalau RSI >55 saya anggap strong bullish, dan kalau <45 strong bearish. Area 48-52 saya anggap netral.
Setelah itu baru saya masukin ADX. Menurut saya bagian ini cukup membantu, karena EMA dan RSI bisa nunjukkin arah dan momentum, tapi belum tentu trendnya benar-benar kuat. Jadi ADX saya pakai khusus buat baca kekuatan trend. ADX <20 = weak, ADX >=20 = trend, ADX >=25 = strong trend. ADX sendiri gak menentukan bullish atau bearish, dia cuma ngukur kekuatan trendnya.
Akhirnya untuk dapat status STRONG TREND bullish, sekarang syaratnya EMA 25 > EMA 50 > EMA 100, RSI >55, ADX >=25, dan harga minimal 50 pips di atas EMA25. Untuk bearish tinggal kebalikannya.
Kalau TREND biasa, syaratnya lebih ringan. EMA tetap harus urut, RSI cukup >52 atau <48, ADX minimal 20, dan harga minimal 10 pips dari EMA25.
Bagian yang lumayan lama saya utak-atik justru consolidation. Awalnya saya kira kalau EMA mixed berarti consolidation, tapi ternyata gak selalu begitu. Ada kondisi market yang sudah sideways tapi EMA masih sedikit berurutan karena sebelumnya habis trend. Jadi sekarang consolidation saya lihat dari beberapa hal sekaligus: RSI di area netral 48-52, ADX di bawah 20, jarak EMA 25/50/100 cukup rapat, dan ketiga EMA relatif flat. Jadi EMA gak harus mixed dulu baru dianggap consolidation.
Kalau gak memenuhi strong trend, trend, atau consolidation, saya kasih status INVALID SIGNAL. Menurut saya bagian ini cukup penting juga, karena gak semua kondisi market harus dipaksakan jadi bullish atau bearish. Kalau memang gak jelas, ya indikator cukup bilang invalid.
Terus sebelumnya saya sempat punya masalah karena signal bisa berubah selama candle masih berjalan. Misalnya awal candle TREND, beberapa menit kemudian INVALID, terus balik TREND lagi. Akhirnya sekarang semua keputusan signal saya buat berdasarkan closed candle. Kalau candle sekarang belum close, indikator tetap pakai data candle sebelumnya. Jadi status gak berubah-ubah selama candle masih berjalan.
Saya juga tambahin alarm. Alarm cuma bunyi kalau setelah candle close statusnya berubah. Misalnya INVALID → TREND, TREND → STRONG TREND, atau CONSOLIDATION → TREND. Kalau statusnya tetap sama, alarm gak bunyi.
Jadi untuk sekarang indikator ini cuma punya 4 kondisi utama: STRONG TREND, TREND, CONSOLIDATION, dan INVALID SIGNAL.
Saya sendiri gak pakai ini sebagai indikator entry. Lebih ke market condition filter sebelum saya cari setup. Jadi misalnya secara visual chart keliatan bullish, saya bisa cek lagi apakah menurut rules saya kondisinya memang sudah trend atau sebenarnya masih invalid.
Masih saya utak-atik juga sampai sekarang. Kemungkinan threshold RSI, ADX, jarak EMA dan rules lainnya masih bisa berubah kalau setelah dipakai ternyata ada yang terlalu ketat atau terlalu longgar. Tapi sejauh ini saya lebih nyaman pakai konsep seperti ini dibanding indikator yang langsung kasih BUY atau SELL.
Tujuan saya lebih ke bikin pembacaan market saya lebih konsisten dan gak terlalu tergantung feeling. Kalau ada yang biasa pakai kombinasi EMA, RSI dan ADX juga, boleh sharing masukan. Terutama soal cara kalian bedain trend biasa dan strong trend.
|