Dari sudut pandang ipteks ini mungkin saja, karena bisa saja tetap "belajar" dari proses non konvensional. Tentu fenomena semacam ini bisa disalahpahami dengan hal-hal yang ghaib/mistis.
Ya, kalau secara logika sih tidak masuk akal kalau memiliki ilmu pengetahuan tapi tanpa dasar belajar sama sekali. Apa lagi pengetahuan tersebut langsung diberikan oleh Allah. Kalau makhluk tersebut orang spesial kayak Rasul dan Nabi sih saya percaya 100%. Sahabat Nabi pun (menurut pengetahuan saya baca) tidak diberi petunjuk langsung, kalau pun diberi petunjuk, Nabi Muhammad kala itu masih hidup untuk memverifikasinya, kayak Umar bin Khattab.
Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya di antara umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang mendapat ilham (muhaddatsun). Jika salah seorang dari umatku memilikinya, maka dialah Umar." (HR. Bukhari).
Jadi, kalau ada orang yang mengaku memiliki ilmu yang langsung diturunkan dari Allah, saya rasa di zaman sekarang ini hanya digunakan untuk ngibul. Apa lagi tidak sholat, tidak puasa, tidak menjalankan semua perintah dan larangan, namun ngaku memiliki ilmu tersebut.
Ya mirip-mirip sama Habib [1] yang katanya punya ilmu bisa terbang, bisa Isra Mikraj, bisa melihat rasul, dan segala khurafatnya untuk digunakan ngibul nyari duit.
Bahkan Habib Umar (yang katanya mulia tersebut) bacaan Al-Fatihanya saja tidak betul lalu dijadikan panutan gitu dan "memiliki ilmu". Sangat tidak masuk dalam Logika saya.
[1].
Tesis KH Imadudin Bikin Amplop Para Habib Makin Kosong (keturunan palsu)
Kalau disamakan di sini sih sama kayak newbie atau akun brandnew tapi sangat paham bitcoin dan blockchain. Kalau gak itu akun tuyul, bisa jadi akun legend yang menyamar. Gak datang-datang langsung bisa, tapi sudah pengalaman dari belajar sebelumnya.
Jadi kalau ada sekonyong-konyong newbie berkelit kalau ilmu blockchain dia dapat itu dari Ilmu Laduni, saya yakin digunakan untuk ngibul.