Saya dulunya sama kayak sampeyan, idealis, pengennya timnas itu harus murni orang indonesia asli, bukan naturalisasi, atau setidaknya kalau memang "bule", mesti lahir dan tinggal lama di indonesia. Namun, ketika saya pikir2 lagi, dan melihat gimana pemain asli indonesia itu main, jadi sirna dan sedikit demi sedikit mendukung naturalisasi. Karena kalau saya lihat negara-negara eropa kayak prancis, jerman, hampir semua tidak ada yang murni orang kulit putih, hampir semua gelap, atau pemain keturunan afrika, artinya hal begini ini sudah umum, apa lagi di negara yang sepakbolanya sudah maju.
Hampir sebagian merasakan hal seperti ini mas tetapi untuk para pemain diaspora sekarang saya rasa itu jauh lebih baik dibanding dengan sebelumnya di era beberapa dekade lalu ketika menjadikan para pemain naturalisasi hanya untuk kepentingan klub karena untuk sekarang tujuannya jadi jelas membawa persepak bolaan timnas menjadi lebih baik.
Memang pasti ada plus minus nya ketika berbicara tentang hal seperti ini tetapi patokan nya terlihat jelas ketika timnas kita bahkan gagal di AFF beberapa bulan sebelumnya ketika lebih memfokuskan untuk para pemain yang berada di liga 1. Bukan berarti para pemain liga 1 atau pemain lokal ini buruk hanya saja perbedaan levelnya sedikit terasa ketika timnas yang bermain di FIFA ASEAN Cup dengan para pemain Timnas yang bermain di AFF.
Pelatih dan jajaran staff di timnas juga tentu bisa melihat bagaimana dari kondisi fisik dan visi bermain ketika para pemain naturalisasi/diaspora dengan liga 1 dan jika memang ingin fair (versi mereka yang ingin banyak lokalnya) dalam pemilihan pemain untuk timnas maka harusnya yang ditingkatkan itu kualitas liga dan para pemain lokal kita karena untuk para pemain lokal saat ini masih berada di belakang dari segi level.