Oke mungkin saya akan meralat sedikit program nya bagus tetapi karena ketidak siapan dari segala aspek membuat program sebagus ini justru menjadi ampas karena mungkin role model nya sudah sangat bagus dengan melihat negara-negara maju dan besar melakukan beberapa program termasuk makanan di sekolah yang memang berjalan baik tetapi disatu sisi itu terlalu cepat untuk negara kita yang masih carut marut dan berantakan.
Disisi lain KDMP yang berhasil itu hanya segelintir dari sekian banyak KDMP yang gagal dan bagi saya tidak sebanding antara keuntungan dari beberapa KDMP yang berhasil dibanding kerugian dari banyaknya KDMP yang gagal termasuk dengan KDMP melawai yang sudah saya
highlight sebelumnya. untuk urusan pajak memang tidak semua dialirkan kesana tetapi kita juga pasti tahu bahwa APBN negara kita itu 70 persen ditopang oleh pajak dan tahun ini MBG dianggarkan di 268 triliun.
Jadi ini juga secara tidak langsung untuk memenuhi 19 juta lapangan pekerjaan dalam janji lain dari wakil presiden kita? Saya tahu bahwa sebagian akan terbantu terutama untuk mereka yang bekerja di KDMP atau di MBG tetapi kita lihat dari sudut pandang lain karena faktanya sebagian besar yang bekerja di dapur-dapur MBG itu memiliki keterikatan satu sama lain karena unsur nepotisme dan privilege kedekatan atau kekeluargaan masih tetap ada. Selain itu untuk urursan program berjalan atau tidaknya tentu ini akan terus dipaksakan sampai akhir karena selain dari elektabilitas yang tetap dipertahankan ini juga menyangkut mereka yang memang memiliki keuntungan pribadi.
Kita bisa melihat 5 yayasan yang memiliki dapur terbanyak untuk SPPG dimana bhayangkari, Muhammadiyah, Yayasan Manunggal Kartika milik TNI AD, YPPSDP milik Kementrian pertahanan dan Yayasan Adi Upaya milik TNI AU. Melihat dari sebaran ini harusnya kita sadar bahwa proyek ini hanyalah sebuah upaya untuk melancarkan keuntungan pribadi dari beberapa intstansi negara dengan dalih makanan bergizi untuk siswa dan lapangan pekerjaan.
https://trends.tribunnews.com/news/121514/5-yayasan-dengan-sppg-terbanyak-versi-mbg-watch-milik-polri-dan-tni-alasan-pakai-vendor-besarsekarang gini mas, dari segelintir yang berhasil ini, apakah mungkin yang lain akan juga sukses jika mendapat perhatian dari warganya? segalanya masih memungkinkan berbeda hasilnya. artinya ada sistem yang perlu diperbaiki dengan begitu banyak kelucuan yang terjadi. disisi lain, kelucuan pembangunan yang kita lihat saat ini, jika masyarakat dan juga pengurusnya saling support pasti jalan dengan baik. tentu warga tak bisa dijadikan alasan, menurut sudut pandang kita, tapi program ini juga hadir untuk warga bukan untuk dikorupsi. ada atau tidak KDMP, warga juga akan bilang "dana desa dikorupsi", semua akan bermuara ke tuduhan korupsi. adanya KDMP akan menjadi tuduhan korupsi nyata, tak ada KDMP akan menjadi tuduhan korupsi senyap. ini semua sama saja.
yayasan pemilik terbesar munglin terasa tidak logis, aku sepakat. satu orang bisa memiliki banyak SPPG untuk MBG ini terasa gak adil, aku juga sepakat. namun di sisi lain, bukankah yayasan-yayasan tersebut memberikan manfaat terhadap warga dalam mendapatkan lapangan kerja? apakah untuk memenuhi ambisi 19jt lapangan kerja? saya gak punya data tentang hal itu, jadi saya tak mau berspekulasi. Andai kata itu benar, tentu ada sisi positif yang harus dilihat. Korupsi tak bisa dibenarkan, tapi kerjaan untuk orang-orang di dalamnya adalah anugerah bagi mereka yang benar-benar direkrut dengan cara yang benar bukan jual beli posisi.
keuntungan pribadi sudah pasti didapat, karena ini terbuka untuk umum dalam membuka SPPG, jika sanggup membangun yayasan, monggi silahkan ikut buka. kan itu bisa dilakukan. ada banyak desa tak tersentuh MBG walaupun masuk kategori terribggal karena belum ada yayasan di sana. kalau diisi oleh bhayangkari dan instansi pemerintah, akhirnya jadi nambah lagi, itu karena ada usaha akselerasi MBG.
sekarang adjusment dilakukan pemerintah untuk MBG, artinya ada masukan yang diterima oleh pemeringah, walaupun dianggap terlambat, setidaknya pemerintah tidak diam untuk berbenah.
terkadang saya mau komen begini juga malas, karena akan dianggap sebagai orang buta oleh sebagian orang. ada juga yang menganggap sebagai badut pemerintah. padahal opini tidak harus selalu menjadi budak pemerintah, karena ada potensi menarik jika ini berjalan dengan benar. harapan saya walaupun sekarang carut marut dengan banyak kelucuannya, suatu saat masyarakat mayoritas merasakan manfaatnya. terlebih jika KDMP membeli hasil tani warga sekitar, dan menjadi distributor pupuk subsidi, ini akan menjadi awal mula yang bagus. akan ada efek jangka panjang yang bisa terwujud, dengan catatan jika dilanjutkan dengan cara diperbaiki. kalau tidak diperbaiki, ini akan tetap menjadi program lucu yang buang2 anggaran, namun jika sudah dirasakan manfaatnya ini akan jauh berbeda. saya bukan perangkat, saya golput, tapi saya gak selalu menertawakan program pemerintah, walaupun terkesan lucu. bahkan saya pernah diangkat jadi sekretaris KDMP, namun saya mundur bukan karena gak suka programnya, namun karena saat itu saya harus kerja diluar kota, daripada KDMP gak jalan mending saya mundur. jadi komen saya ini bukan karena kepentingan, tapi karena ada sedimit optimisme yang menurut saya bagus jika dijalankan dengan benar.